PikiranGRP

MEMAKSIMALKAN POTENSI SOFT POWER INDONESIA

Gugum Ridho Putra

Dalam beberapa tahun terakhir dunia islam telah terjerumus dalam ketegangan konflik peperangan tak berkesudahan. Semenjak peristiwa terorisme 9-11 di Amerika Serikat yang berujung kepada invasi ke Irak. Konflik dunia islam terus berlanjut ke Libya dan Ke Suriah. Di sisi lain, konflik Israel dan Palestina juga tidak pernah mereda. Hari ini konflik dunia islam kembali menegang di Kawasan teluk Persia dengan terlibatnya Amerika Serikat secara langsung melawan Iran. Amerika sendiri telah membatalkan perjanjian gencatan senjata dan terang-terangan akan melanjutkan serangan ke Iran dengan berbagai macam alasan dan pertimbangan.

Pada sisi Iran sendiri, kita dapati pimpinan Republik Islam Iran yang sekarang, Mojtaba Khamenei anak kandung sekaligus suksesor Alm. Ali Khamenei, juga bersumpah akan membalas kematian almarhum Ayahnya. Bayangan tentang penutupan selat hormuz kembali menghantui negara-negara di dunia. Penutupan itu kembali akan mengganggu saluran pasokan minyak global sehingga sekalipun tidak terlibat langsung konflik, banyak negara-negara lain di dunia ikut merasakan dampak buruk ekonomi karena kenaikan harga minyak. Barangkali Iran tidak hanya hanya ingin menghukum Amerika yang menyerangnya secara langsung, tetapi Iran juga sedang menghukum mayoritas negara di dunia yang dianggapnya hipokrit, yang mendiamkan tindakan-tindakan Amerika yang dianggap kelewat batas.

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Melihat potensi konflik jangka panjang yang akan terus mendatangkan kerugian tidak adakah peran strategis yang bisa kita jalankan untuk menyelesaikan konflik ini? Setiap kali konflik merebak di Kawasan Timur Tengah dan Afrika kita telah menyaksikan beberapa negara rutin bertindak sebagai penengah konflik. Nama-nama besar seperti Qatar, Mesir dan Turki adalah sederet pemain utama sebagai penengah. Rekan – rekan negara tetangga kita seperti Pakistan, China dan Malaysia juga sudah sering berperan aktif memainkan posisi itu. Beberapa negara Timur Tengah dan Afrika yang aktif menjadi penengah bahkan sudah mulai dikenal dengan peran yang lebih spesialis sehingga membedakan fokus bantuannya dengan negara-negara penengah lainnya.

Uni Emirat Arab misalnya, memainkan peran penengah dalam diplomasi pembangunan dan aksi kemanusiaan. Kerja-kerjanya nyata terlihat dalam proses rekonstruksi Kawasan pasca konflik dan pembangunan ekonomi. Yordania juga demikian. Posisi strategisnya banyak dikenal sebagai penjaga stabilitas regional dan penampung pengungsi akibat konflik. Di belahan Kawasan Afrika ada Maroko yang dikenal sebagai penegah dialog budaya negara-negara Afrika yang berkonflik. Aljazair juga demikian, dikenal sebagai promotor diplomasi anti kolonial bagi negara-negara Afrika dan mediator konflik di antara sesama mereka.

Potensi Soft Power Indonesia

Selama ini, jejak diplomasi Indonesia sebetulnya sudah cukup baik dalam agenda perdamaian dunia walaupun peran Indonesia itu belum se-aktif negara-negara yang berperan sebagai pemain Penegah Utama tadi. Peran Indonesia selama ini lebih cenderung menjadi juru bicara perdamaian yang aktif mempromosikan diplomasi “moderasi islam, demokrasi dan perdamaian”. Jejak Indonesia dapat dilihat dari kiprahnya di masa lalu seperti:(1) menghidupkan gerakan Non-Blok; (2) menginisiasi Konferensi Asia-Afrika untuk menguatkan negara-negara berkembang agar tidak menjadi korban persaingan dua negara adidaya; (3) membentuk Kawasan Asia Tenggara yang stabil dan damai melalui ASEAN; (4) Terlibat aktif membela kemerdekaan palestina melalui Organisasi Konferensi Islam (OKI); dan termasuk (5) melakukan pengiriman misi pasukan perdamaian di beberapa negara seperti di Libanon dan di Republik Afrika Tengah.

Sejauh ini itulah peran sentral yang dilakukan oleh Indonesia. Indonesia belum se-aktif negara-negara penengah yang memainkan peran secara langsung mewadahi dan merumuskan jalan perdamaian di antara negara yang bertikai. Padahal jika dicermati dengan penuh keyakinan, sejatinya Indonesia memiliki banyak keunggulan yang tidak dimiliki negara-negara demokratis berpenduduk muslim yang lain. Sekalipun keunggulan itu tidak dalam kategori hard power seperti kekuatan militer ataupun ekonomi namun lebih kepada  soft power, tidak berarti hal itu mengurangi signifikansi pengaruhnya kepada perdamaian dunia.

Beberapa potensi soft power Indonesia itu antara lain posisi Islam Indonesia yang tergolong moderat dan mengikuti perkembangan zaman. Sekalipun memegang porsi yang terbesar, penduduk muslim Indonesia ternyata memiliki kedewasaan beragama yang sangat tinggi. Posisi mayoritas tidak membuatnya memaksakan kehendak agar sistem islam diberlakukan kepada semua. Ciri moderat dari islam Indonesia bisa terlihat dari kerelaannya untuk hidup damai secara berdampingan dengan komunitas pemeluk agama lain. Toleransi beragama di negara ini telah berlangsung sejak sama.

Keunggulan soft power lainnya adalah adanya pelembagaan filosofi keberagaman yang dijadikan sebagai dasar negara (filosofische grondslag) yang disebut sebagai Pancasila. Pancasila mengandung semboyan kehidupan yang sangat kuat yang disebut bhineka tunggal ika (berbeda-beda namun tetap satu) atau unity in diversity yang memungkinkan negara ini tetap bersatu di tengah keberagaman agama, suku dan budaya yang sangat kompleks. Keunggulan ini jelas menjadi daya tarik besar bagi negara lain karena ada banyak negara-negara di dunia yang profil sosial masyarakatnya cukup seragam, namun tetap saja gagal menciptakan kebersatuan dan terus menerus terseret konflik dan perpecahan.

Keunggulan soft power lainnya muncul dalam posisi Indonesia sebagai salah satu negara terbesar yang bersistem demokrasi. Pengalaman Indonesia sebagai negara demokratis menjadikannya dikenal kredibel dan stabil dalam pembangunan kapasitas institusi dan tatakelola pemerintahan. Banyak negara-negara di dunia gagal membangun institusi demokratis di negaranya sehingga penegakan hak politik para warga nya tidak jarang mencari bentuknya yang ekstrim di dalam kelompok-kelompok separatis yang mengancam persatuan. Walaupun terus menerus dalam perbaikan, Indonesia relatif punya pengalaman yang baik membangun institusi negara yang demokratis di tengah keberagaman yang kompleks.

Sisi soft power Indonesia yang lain juga datang dari kekayaan Budaya Indonesia. Tidak bisa dipungkiri kebudayaan Indonesia sangat-lah kaya jika dibandingkan dengan negara lain. Dapat dibayangkan bahwa setiap suku di Indonesia membawa ragam adat istiadat, bahasa, kesenian bahkan tradisi kuliner yang berbeda-beda. Potensi budaya yang kaya itu memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang damai dan terbuka dengan eksistensi perbedaan-perbedaan. Eksisnya setiap tradisi kebudayaan yang berbeda-beda menunjukkan kematangan dan kebijaksanaan masyarakat Indonesia yang saling menghormati satu dengan lainnya. Tanpa adanya hal itu tentu menjadi tidak mungkin satu budaya bisa eksis bertahan sampai saat ini. Artinya masing-masing kebudayaan itu tumbuh tanpa adanya ancaman.

Semua potensi soft power yang dimiliki Indonesia itu lah yang membuat Indonesia menjadi wilayah yang stabil dan relatif tanpa konflik terbuka dengan negara lain. Stabilitas yang terjaga terutama bagi negara-negara yang berkonflik adalah barang mahal yang sangat diidam-idamkan. Pembangunan suatu negara butuh perdamaian untuk terus tumbuh. Kelebihan itu sekarang ada di Indonesia. Dengan emua potensi soft power itu layak menjadikan role model pembentukan kawasan yang stabil.

Memaksimalkan Soft Power Indonesia

Kembali kepada persoalan konflik di dunia islam pada wilayah Timur Tengah yang sebelumnya di bahas. Pertanyaannya sekarang bagaimana memaksimalkan potensi soft power Indonesia itu agar dapat berperan secara maksimal mengatasi konflik?. Untuk hal itu tiada lain Indonesia harus berani mengubah posisinya yang semula sekedar juru bicara perdamaian menjadi negara penengah yang aktif menginisiasi penyelesaian konflik. Indonesia boleh saja meneruskan kampanye perdamaian hanya saja bentuknya meningkat penengah aktif negara – negara islam dan negara lain yang berselisih. 

Apabila Pemerintah Indonesia berniat serius untuk melakukan hal itu maka harus ada institusionalisasi atau pembentukan lembaga resmi untuk itu. Pemerintah dapat membentuk lembaga semacam “Pusat Mediasi dan Negosiasi Negara-Negara Berkonflik”. Untuk melambungkan publikasi, nama Jakarta sebagai representasi Indonesia bisa digunakan untuk menamakan lembaga tersebut. bisa saja lembaga negara itu kita beri nama “Jakarta Islamic and Global Peace Center”. Dengan membentuk lembaga ini, masa-masa Indonesia menjadi penonton konflik telah berakhir dan kita tampil menjadi negara penengah berdiri sejajar dengan nama-nama besar negara penengah konflik lainnya. Dengan cara ini Kita bisa terlibat aktif menyediakan fasilitas perundingan, sumber daya penengah yang kredibel serta rumusan solusi-solusi konret yang dapat menyelesaikan perselisihan. 

Lantas apa ada manfaat strategisnya jika kita berubah menjadi penengah? Manfaatnya strategis bagi Indonesia tentu tidak kecil. Selain dapat meningkatkan kredibilitas dan pengaruh diplomasi, Indonesia berpeluang memfasilitasi kegiatan-kegiatan negara yang berdamai pasca konflik. Indonesia dapat menfasilitasi kerjasama ekonomi, menggelar pertukaran pengetahuan dan teknologi, memberikan pelatihan bagi diplomat untuk negara yang berdamai dan seterusnya. Dengan meningkatnya kredibilitas diplomasi kita sebagai penengah turut pula akan meningkatkan kepercayaan investor global soal kredibilitas Indonesia sebagai tujuan investasi.

Perlahan namun pasti Jakarta akan dikenal selayaknya kota-kota Pemain Utama penengah konflik seperti Doha, Oslo dan Genewa. Kedepan kalau negara-negara muslim maupun negara – negara lain di dunia mengalami konflik, nama yang pertama muncul dalam benak mereka tidak lagi kota-kota besar tadi melainkan “kita selesaikan perundingan kita di Jakarta”. Jika hal itu telah terjadi maka Indonesia bisa jadi mendapat julukan baru bagi dunia islam maupun global, yakni “a Credible Peace Maker from Asia”. Wallahualam.

Tulisan ini pertama kali terbit di blog pribadi Gugum Ridho Putra.

Tulisan Lainnya

Lihat semua